Sabtu, 13 Januari 2018

We are Co-Counder of Artravel Gallery



Nggak perlu nunggu media nge-booming in khan sayangku? Imamku? Hehe... use this blog more effective I think. Tahnkyou for alot your gift to me. This life. This beautiful life.
.
Perkenalkan kami adalah co-founder Artravel Gallery :
.
Saya Ulfah Setianingtias dan suami saya Gatot Wijoyo.
Kami menyadari begitu banyak kekurangan kami dan sedikitnya kelebihan yang kami miliki satu sama lain. Bahkan perbedaan terasa begitu lebih banyak ketika kami memutuskan untuk bersatu dalam ikatan pernikahan. Namun hal itu bukan menjadi masalah yang besar bagi kami. Justru kami mengambil sebagian dari sisi yang lain atau hikmahnya hingga terlahirlah Artravel Gallery ke dunia ini 😉😁😁😘😍😍
.
Perpaduan antara Seni, Perjalanan dan Management yang saling berkaitan satu sama lain. Kekentalannya pun memengaruhi segala proses hingga kualitas dari hasil dan tujuan yang dituju. Saya, Ulfah, sangat mencintai bidang management, program dan strategi marketing. Lain halnya sang suami meletakkan seni murni di urutan cinta ke-2 nya setelah mencintai Allah, yakni cinta matiii dengan kehidupan berkeseniannya. Dengan demikian kami berusaha untuk menggabungkan itu semua dalam "Artravel Gallery"
.
Kami ingin membangun Artravel Gallery dengan semangat management yang kuat sehingga tercapainya visi yakni: sebagai partner management perjalanan seni seorang seniman/komunitas seni dunia. Mudahnya bisa disebut supporter/promotor terdepan bagi setiap seniman visual dimanapun berada. .
Saat ini kami sedang mengembangkan sayap kami lebih luas, lebih jauh dan lebih dalam ke berbagai lingkaran yang tidak saja berkaitan dengan bidang seni namun setiap lingkaran yang ada andil besar dalam setiap kehidupan. Mengapa harus demikian? Sebab setiap kehidupan adalan seni yang diciptakan-Nya, untuk terus kita nikmati hingga detik ini. #Alhamdulillah... Jadi semakin lebar, semakin berkembang, semakin luas tentu semakin banyak faedah, ilmu, kajian, maupun hikmah yang dapat diambil untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata. NYATA >> bukan hanya di media. Seni untuk terus dieksplorasi untuk hajat hidup orang banyak.
.
The More You Know … The More You Get To Know ( Email us : hello.artravel@gmail.com )
.
#aboutus
#artravellers
#dariseniuntukdunia
#fromarttotheworld
#senisaranadakwah
#belajardariseni
#artworklearner
#professionalcouple
#bussinesspartner
#artmanagement
.
@setyawijoyo
@gatotwijoyo

------------------------------------------------------------------------

  • artravellersWISHES & MESSAGEs from Artravel Gallery
    .
    To visitors / YOU: We wanna THANK YOU for the curiosity and open mind. Interactions make Our Art alive, giving a real meaning to what is shared. We wish you to enjoy your imagination’s fantasies and discover unknown lands of your self
    .
    To medias & magazines: being able to talk about the motivations of what’s behind the frames & colors in our artist's works, means a lot to us, it’s very important for us to have some opportunities to share thoughts.
    .
    To designers / product makers: It would be a pleasure to discuss about it. We are open to have some of my artworks used ( for example, clothes, food equipments, etc ) as long as the ethic is eco-friendly.
    .
    To musical artists: music is a huge passion and activity, don’t hesitate to contact us if you want to have one of our paintings (or a detail) used for your album’s (or else) artworks
    .
    To publishers: We look to be able to produce a book featuring paintings, short texts as well as quotes, so-called philosophical discussions, like a great poetry/stories of what we can do, (contact me)
    .
    To charities / foundations: it would be an honor to see some of our works (visual or spiritual) as a part of a campaign for a positive change (animals’ rights, nature’s protection, biodiversity, childhood…)
    .
    What drives us is the desire to be and to re-member, as much as the will to share positive waves and insights to help the "change"
    .
    In the end, we are open to collaboration with anything department/users to developt art more huge more effective & more impaccable
    .
    #aboutus
    #artravellers
    #dariseniuntukdunia
    #fromarttotheworld
    #senisaranadakwah
    #belajardariseni
    #artworklearner
    #professionalcouple
    #bussinesspartner
    #artmanagement
    #sharingcollaboration
    #taketoact

Senin, 08 Januari 2018

Lahiran Dadakan ala Al Fattieh, Fantastic Value kata Bapake Nares :)

Lahiran-3, Al Fattieh Joyo Negoro 
(di next post yaaaa, agak detil ini ceritanya tentang proses kehamilan sampai lahirannya)


Anak hasil On The Spot Madura. Anak Madura.
Eaaaa…. kenapa saya bilang gitu? Semua ada reasonnya.
Setelah Nareswari umur 1 tahun, saya jadi sering dimimpiin sama alm abangnya, alm. Yusuf putra kami pertama. Mimpi itu bermunculan dengan jarak waktu yang konsisten. Di dalam mimpipun alm Yusuf bertumbuh seperti anak-anak normal lainnya. Saya jadi semangat untuk program kehamilan selanjutnya. Dalam pikiran saya, apa mungkin si abang ingn direpresentasikan lagi dengan hadirnya adik laki-laki? Namun program kehamilan mengalami titik buntu hingga tahun 2016 akhir, semakin diinginkan semakin garis 2 merah menjauh dari tespack. Hehehehe…


Saya dan suami-pun mulai coba mencari tahu melaui petuah, googling, dan berbagai literatur, kenapa perempuan tanpa KB seperti saya untuk mendapatkan kehamilan yang ke-3 terbilang tidak mudah? Sampai pada suatu hari suami ingin melakukan pijat sebab merasa kecapai-an setelah event di Toraja. Kebetulan kami saat itu Januari 2017, akan menghadiri pernikahan saudara kami pula di Surabaya, jadilah kami bertemu di titik kumpul Surabaya. Singkatnya, suami di Surabaya mendapat tukang pijat asli Sampang, Madura. Namanya Pak Timbran. Seperti gayung bersambut, Pak Timbran ini menawarkan suami saya untuk melakukan pijat “Kumpo” dalam bahasa Indonesia berarti Pijat “Pompa”. Beliau menjelaskan pijat ini berfungsi untuk memperlancar aliran sperma, memperbaiki regenerasi sperma agar tepat sasaran jika menginginkan suksesnya sperma membuahi sel telur. Alhamdulillah yaaa… Allah bener2 maha baik, menunjukkan kami jalan menuju kehamilan selanjutnya. Ini yang dinamakan insan ikhtiar. Kamipun mengikuti saran nya selanjutnya untuk pergi ke Madura, yang doi bilang disana banyak rahasia awet diranjang untuk wanita. Sekaligus pulau 1000 masjid, jadi kita bisa berdoa lebih sering lebih dekat untuk apapun hal yang kita inginkan melalui ziarah ke masjid2. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Madura dan tinggal di Sumenep, salah satu kota ethnic di pulau Madura yang punya keraton lho… Masjid terbesar namanya masjid Jami’. Saya memohon dengan giat, mengenai keinginan saya dan suami untuk nambah momongan. Semoga diberikan amanah lagi seorang bayi laki-laki yang insyaAllah kami ingin upayakan kelak nanti ia dapat menjadi pemimpin yang beriman, muslim kaffah dan membawa perubahan lebih baik bagi bangsa ini. Amiin…

Senin, 01 Januari 2018

Cerita Lahiran Ibu Ulfah


Hehe… Kebayang nggak apaan yang mau diceritain tentang lahiran ?

Soalnya udah mulai banyak nih pertanyaan dan permintaan sharing tentang pengalaman lahiran akuw. Ehm… ketahuan deh ya satu angkatan yang nikah duluan siapa? hehe. On next tulisan, insyaAllah juga coba untuk certain kenapa sih saya memutuskan untuk nikah muda. But on this topic, saya ingin lebih focus, lebih dekat dengan stories of lahiran. Let’s check it out.

Lahiran- 1, Alm. Yusuf bin Gatot Budi Santoso

Jadi… setelah nikah tahun 2012-nya, Alhamdulillah juga langsung dikasih amanah sama Allah. Saya hamil Putra pertama. Tapi Bad condition memaksa saya lahiran dadakan 24 week di Rumah Sakit Sulianti Saroso, Ancol – Jakarta. Pas itu masih pagi banget, perut rasanya mules nggak karuan, emang malemnya udah dimimpiin lari-lari dalam kondisi hamil besar dan ngelihat kaki udh berlumuran darah. Nah pas pagi karena mulesnya nggak reda, suami bilang mungkin karena laper, trus kami sarapan di kantin Pantai Marina. Saya juga sempet ngasih makan kucing waktu itu lha wong ada kucing kurus banget meow meow terus ngelihatin saya makan sama suami, yang pas kebetulan menunya ikan. Nah setelah sarapan, rasa mulesnya hilang lalu saya berencana mandi. Nah kok pas saya lihat CD saya, ada bercak merah. Saking paniknya langsung bilang ke suami, kita harus ke Rumah Sakit ini. Ada yang nggak beres. Bener deh, pas udah nyampe UGD darah mengalir begitu deras dan celana saya basah semua akibat pendarahan yang nggk bisa dicegah. Dokterpun bilang, kemungkinan besar bayi ndak bisa tertolong sebab air ketuban sudah pecah dan pendarahan terus menerus. Kami berdua hanya bisa pasrah, sampai saya lemas di kasur UGD tersebut. Menahan kontraksi yang tiada henti, nggak ada yang bisa dilakuin lagi kecuali nunggu si bayi keluar dengan sendirinya. Hingga teriak cukup keras saya merasa ada yang keluar dari vagina saya, “Dokter, itu apa dokter yang keluar?”. Dokter dan perawat di UGD tersebut hanya menyambut dg perkataan lirih “Sabar ya Bu, bayinya sudah keluar, ganteng Bu, tapi Penciptanya lebih sayang ke adik bayi,” . Setelah mendengar itu saya hanya bisa nangis. Saling bertatapan dengan suami, saling menguatkan. Mungkin memang kali ini bukan rezeki kami. Alm. Yusuf, maafkan ibumu tak kuasa ibu melihat wajahmu Nak. Namun ibu sempat menggendongmu dari RS sampai ke rumah. Hari itu juga engkau dimakamkan di pemakaman Rawa Mekar Jaya, BSD. Nggak ada yang nggak sedih kalau keinget kejadian itu, throwback rasa patah hati lebih dalem daripada kegalauan apapun. Ini terkait separoh jiwa kita, diminta lagi sama Allah. Kebayang kan gimana rasanya? Tapi yang ingin dibagikan di cerita ini bukan masalah kesedihannya. Saya ingin berbagi kisah, bahwa melahirkan itu moment bahagia bagi semua ibu. Nggak perlu mikirin rasa sakitnya gimana, nanti dijahit pakek apa, abis lahiran bisa nggak gini gitu dll. Cukup mikirin yang indah-indah, supaya lancar semua prosesnya. Percaya deh, Allah akan memberikan segalanya itu sepaket. Sedih bahagia, sakit sembuh, rezeki ujian, semuanya sepaket. Enak jadinya kita ngerasainnya juga makin banyak bersyukur. Walaupun alm Yusuf kala itu hanya sebentar bersama kami, kenangan indah itu menguatkan saya, memberikan arti yang begitu besar bahwa menjadi seorang ibu ndak segampang yang saya fikirkan. Ibu harus punya hati lapang, hati untuk menerima segala yang akan terjadi pada dirinya sendiri, maupun belahan hatinya. Hehe sok kuat deh saya. Tapi beneran ini, setelah lahiran alm Yusuf, saya bisa melakukan rutinitas dengan baik, normal tanpa terkendala. Hanya saja kolostrum mulai berproduksi, tidak ada yang meminum asi tsb. 

Lahiran-2, Nareswari Wijoyo Putri

Setelah kejadian Alm. Yusuf, saya disarankan dokter untuk mulai program menggunakan alat kontrasepsi, namun saya menolak. Sebab saya dan suami hingga saat ini belum pro mengenai pemakaian alat kontrasepsi tsb. Dokter berargumen dan tidak bertanggung jawab jika saya mengalami kelahiran premature lagi sebab melanggar sarannya. Bismillah, saya jalani segala konsekuensinya bersama suami saya. 3 Bulan kemudian saya dinyatakan positif hamil. Ini anak ke-2 saya. Proses kehamilannya lancar sekali, bahkan saya masih aktif bekerja di kantor hingga seminggu sebelum HPL. Perkiraan lahir tanggal 20, nah tanggal 15 nya udah mulai mules. Rencana lahiran di bidan, pagi langsung ke Bidan eh Bidan bilang saya perlu nunggu di rumah aja sebab masih pembukaan 3. Yaudah saya nyantai sama suami, sarapan gado-gado di depan rumah Bu Bidannya. Lhaaaa… kontraksinya kecampur sambel gado-gado kali ya, jadi makin kenceng euuuyyy. Ngelihat saya yang udah mulai pucat, suami jadi mulai panik. Terus dia bilang supaya kita cari Rumah Sakit aja mungkin cek lagi. Sampailah di RS Putra Dalima BSD, di situ cek langsung di suruh masuk ke ruang persalinan, saya ijin mau ambil baju bayi dulu tapi perawat bilang, suami saja yang pulang, kuatir saya nanti “mbrojol” dijalan. Nyesuaiin budget saya ambil paket persalinan bersama Bidan Senior. Disamping itu dokter spesialis kandungannya nggak ada yang cewek, jadi pas lah jam 9 pagi udah ganti baju RS, jalan-jalan di taman RS, jam 10 bebaring di delivery room. Bu Bidan bilang ke saya, “Bu, kalau saya tinggal ke ITC bentar bisa nggak ya?” dalem hati masyaAllah Bu Bidan inget aja shoping di ruang ngelahirin gini wkwkkwkwk…. “Yach jangan dong Bu, lahirannya aja dicepetin” wakkakakakakk ngakak bareng deh kita. Jadinya saya diinduksi dari bukaan 5 ke 9 cepet banget deh.. Pas adzan Dhuhur persis selesai, Putri kami lahir ke dunia ini dengan sedikit tangis. Makanya waktu itu si bayi di semprot kupingnya, supaya nangisnya kenceng. Alhamdulillah dalam kondisi lemas seperti itu, saya masih sempet nanya ke Bu Bidan, “Jahitan saya berapa BU?” terus dengan entengnya “Wah Ibu sih nggak senam hamil, robek semua ini. Nggak dijahit tapi di-obras ibu mah,” hahahhaha ngakak lagi dengeer ibu Bidan yang satu ini. Selebihnya saya lupa sebab terlalu lemas, jadi saya tertidur setelah itu. Hehe. Sejam kemudian, saya dengar suara suami saya dan kami bertatapan (ceileeeh)… Doi langsung njabat tangan saya, sambil berkata ,”Nanti anaknya dikasih nama: Nareswari Wijoyo Putri”, karena masih lemes banget saya cuma ngangguk2 terus ngeraih henphone ketak ketik ngabarin temen2 kantor kalau udah lahir ini baby “NWP” . Cerita persalinan ke-2 terdengar lebih rilex ya… Bener, emang kalau kita positif thinking semua akan terasa mudah. Percaya deh. Bahkan setelah melahirkan ke-2, saya bisa langsung pake celana dan di hari ke-5 paska lahiran, udah bisa belanja sayur naik motor. Super. AllahuAkbar. Terima kasih ya Allah….

Lahiran-3, Al Fattieh Joyo Negoro
(di next post yaaaa, agak detil ini ceritanya tentang proses kehamilan sampai lahirannya)

Selasa, 06 Juni 2017

Ketika Daya dan Usahaku Berlabuh padaMu

Alhamdulillah ramadhan 12 hari sudah berlalu. 

Sederet kisah rindu kota bernuansa kental Islami kembali menyeruak kalbu. Teringat masa-masa itu, tepatnya bulan Februari lalu. Ketika kami bertiga, saya, suami dan anak kami Nareswari tinggal di Sumenep. Di sebuah daerah yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya, dan tanpa saudara yang kami kenal satupun. Bahkan tersimpan cerita yang lumayan panjang jika ingin dituliskan sebab kami tinggal di sana selama satu bulan penuh lamanya. 

Sumenep, dapat dijangkau dari kota Surabaya lalu menyebrangi jembatan Suramadu dan melanjutkan perjalanan mengikuti jalan utama pulau Madura sekitar 180-200km ke arah paling timur kota Madura. Barulah nampak kota kecil dengan fasilitas yang cukup lengkap di Sumenep. Saat itu saya dan suami memilih untuk melakukan perjalanan darat dengan menggunakan sebuah motor sebab kami pasti memerlukan motor untuk berkeliling kota tersebut. Selain itu juga ada rute bus Surabaya - Sumenep dengan tarif Rp 40.000 - Rp 65.000, harga tiket bus tergantung "non AC atau eksekutif AC". Lama perjalanan dengan motor kira-kira 4-5jam (normal), sebab kami berhenti setiap adzan, maka perjalanan kami-pun molor hingga 8jam.

Tak banyak orang mengira bahwa kota kecil Sumenep tersebut ternyata adalah sebuah kabupaten dengan wilayah terbesar di kepulauan Madura. Kurang lebih ada sekitar 160 pulau tersebar yang masih dalam lingkup Kabupaten Sumenep. Tujuan saya dan suami saat itu sedang dalam perjalanan untuk berkarya. Sehingga konsep karya lukis (seni murni) yang terlahir murni menceritakan keadaan suatu daerah yang kami kunjungi. Tujuan besarnya adalah pengumpulan karya untuk persiapan pameran tunggal, amiin...

Menepis beberapa anggapan segelintir orang, bahwa perawakan orang Madura adalah keras dan kurang kooperatif, kami malah kagum dengan keramahan para penduduk Madura, khususnya di Sumenep. Mengetahui niat kami untuk STAY selama satu bulan, salah satu jamaah Masjid di perbatasan Sampang dan Pamekasan, Madura, Namanya Ibu Karibah menawarkan kami untuk tinggal di rumahnya sebab ke-5 anaknya merantau semua. Sungguh tak disangka bukan? Begitulah kemurahan hati penduduk Madura dengan pendatang. Namun kami tolak secara halus, sebab tujuan kami memang untuk tinggal di Sumenep. 

Hari pertama kami sampai di pusat kota Sumenep, dibantu mencari alamat sebuah hotel oleh teman yang baru saja kami kenal di warung PENTOL (jajanan favorit oreng Madura). Sebut saja namanya Andi. Keesokan harinya pun kami mencari dan akhirnya menemukan tempat kos sesuai budget di daerah Batuan, dekat dengan terminal bus Aryawiraraja. Info Kos tanpa AC kurang lebih 250k - 300k, untuk kamar kos dengan AC 550k-750k. Cukup murah bukan?

Besok dilanjut lagi ya ceritanya... udah ngantuk nih...


Jumat, 18 November 2016

JEMUJURINDU

Bicara soal JENUH? nampaknya gejala itu tipis dengan RINDU.
Why am I so perfectionism person?

Berapapun nada yang saya coba tembangkan, terasa begitu parau di satu titik
Di mana dunia terasa lebih ciut dari hari biasanya.
Ya titik beku. Kau akan membeku untuk tahu.

Saya sungguh pilu dengan chord yang tak menentu
Di mana pagi harusnya biru terhempas dan berabu.

Coba kau pahami nada itu,
Lamunan tentang Rindu yang menggebu...

Di mana hanya ada saya dan kamu
Di ruang bisu.